risa
Comments Off on NATAL ….. : Parodi Kehidupan by Ayub Yahya
and posted in My writing

Eh, mau NATAL ni….. Lagu Malam Kudus mulai bergema, bahkan di siang hari bolong. Begitu juga lagu-lagu macam Gita Sorga Bergema dan Jinggle Bells, terdengar mulai dari sudut aula gereja sampai mall dan cafe-cafe pinggir jalan. Ramai….Banyak tempat mulai berhias diri, dengan lampu-lampu yang kerlap-kerlip, dengan rupa-rupa hiasan NATAL, Meriah….

Iya, mau NATAL ni. Panti asuhan, panti jompo, dan panti-panti sosial lainnya mulai kebanjiran telepon. Berbagai kelompok dan pribadi sigap menjadwalkan kunjungan. Tentu saja dengan membawa kardus-kardus hadiah. Bau kue NATAL dari dapur rumah mulai tercium, dengan beraneka rasa dan kudapan khas NATAL lainnya. Belum lagi, aneka masakan yang di setiap pesta NATAL tumpah ruah. Membuat air liur menetes tanpa henti, timbangan badan naik tanpa kendali, dan angka kolesterol melambung tanpa kompromi. Tidak ketinggalan pula paman berjanggut putih dan berbaju merah menyala mulai mondar-mandir di pusat perbelanjaan lengkap dengan tertawa khasnya, “Ho Ho Ho…..!”.

Begitulah hiruk pikuk NATAL dari tahun ke tahun. Hmmm….numpang nanya nih, dari sekian banyak NATAL yang pernah Anda lalui, NATAL mana yang paling berkesan buat Anda? Dan, apa kesannya? ……Dua kemungkinan jawabannya. Pertama, tidak ada kesan yang tersisa. NATAL satu datang, NATAL lain pergi, like gone with the wind, pergi bersama angin. Seperti sebuah musim yang datang dan pergi berulang dari tahun ke tahun, nggak ninggalin jejak apa-apa. Kedua, kalau pun ada kesan yang nyangkut di hati, nempel di benak, itu bukan berkenaan dengan “isi”, tapi sebatas “kulit”. Bukan menyangkut “makna”, tapi sebatas “acara”. Macam great sale di Singapura, lengkap dengan gemerlap Orchard Road di akhir tahun. Huh…….

Ironis memang, betapa tidak? NATAL, sebuah peristiwa yang mengubah sejarah peradaban manusia secara telak, terdegradasi begitu rupa sekedar menjadi acara riuh rendah, tapi miskin makna. Seumpama balon yang tampak indah di luar, tapi kosong di dalam. Orang bisa begitu lekat dengan berbagai ornamen dan tradisi NATAL. Sedang Sang Bayi Kudus itu terbiarkan di pojok sunyi.

Apa yang hilang dari NATAL kini, dibandingkan dengan NATAL tahun-tahun yang lalu? ……..Hanya ada satu hal : KETULUSAN. NATAL kini sudah terlalu tebal berselimut Rutinisme dan Formalisme, dua isme yang adalah “musuh besar” ketulusan.

Rutinisme, yaitu ketika NATAL menjadi sesuatu yang rutin. Sekedar kebiasaan tahunan. Kenapa bikin acara NATAL? Lha, kan dari dulu juga bikin, masak tahun ini nggak bikin?! Dulu ada pohon NATAL, drama NATAL, candle light service….sekarang harus ada juga dong?! Kenapa harus? Ya, karena dari dulu juga ada. Bolak balik karena dari dulu-dulu juga sudah begitu.

Formalisme, yaitu ketika NATAL menjadi sebuah rentetan “kewajiban”. Sekedar ada, hanya untuk memenuhi kepatutan dan tuntutan. Kenapa bikin acara NATAL? Lha, kan kita orang KRISTEN, jadi wajib dong bikin acara NATAL. Apa mesti begitu? Ya, mesti lah! Kan orang lain juga begitu. Persis seperti seorang gadis yang tersenyum karena terpaksa, atau seorang pengamen yang nyanyi tanpa penghayatan. Kering…..

Hal lain yang hilang dari NATAL kini adalah : KEHENINGAN. NATAL kini seolah sudah identik dengan “aktivisme”. Hiruk pikuk, gebyar acara. Orang menjadi sebegitu sibuk dengan berbagai hal : rapat-rapat, latihan-latihan, belanja ini dan itu, kesana kemari, rencana begini dan begitu. Pokoknya sibuk-buk. Tidak ada sedikit pun ruang tersisa, waktu terluang, untuk sekedar duduk tenang meneduhkan diri, tunduk luruh dalam lautan kasihNYA.

Maka, tak heran, ketika semua itu selesai, yang tersisa tinggal kelelahan lahir, dan mungkin ditambah kesumpekan batin, entah karena jengkel dengan si Anu dan si Ana, entah karena nyesel dengan kejadian ini dan itu. Atau, kalaupun ada yang tersisa, itu hanya sebatas kenangan….just it!

AAAACH……tiba-tiba saya rindu sekali pada kesunyian Betlehem, pada keluguan para gembala di padang Efrata, pada kesederhanaan palungan, pada keteguhan Maria dan Yusuf, juga pada ketulusan para Majus, yang kesemua itu kini hanya menjadi ornamen artifisial, sekedar kenangan tentang suatu peristiwa di suatu ketika di masa lalu di tengah gemerlap NATAL masa kini.

“Saudara-saudariku…..apapun tema dan rencana NATAL kita kali ini, marilah kita merenung sejenak, untuk memahami apa sebenarnya makna dan alasan TUHAN YESUS lahir ke dunia ini. Tahukah kau?……KITALAH ALASANNYA ….WE ARE THE REASON ……”

KETIKA MASIH KECIL, KITA MEMIMPIKAN HARI NATAL

DENGAN SEMUA HADIAH DAN BONEKA

DAN KITA TELAH TEMUKAN SEKARANG

NAMUN KITA TAK MENYADARI

SEORANG BAYI TLAH LAHIR DI SATU MALAM PENUH BERKAT

TUK BERIKAN HADIAH TERBESAR DALAM HIDUP KITA

KITALAH ALASANNYA, DIA BERIKAN HIDUPNYA

KITALAH ALASANNYA, DIA MENDERITA DAN MATI

BAGI DUNIA YANG HILANG, DIA BERIKAN SEMUA YANG DIA DAPAT BERIKAN

TUK TUNJUKKAN KEPADA KITA ALASAN UNTUK HIDUP

SEIRING WAKTU BERLALU, KITA BELAJAR BANYAK TENTANG HADIAH

HADIAH BAGI DIRI KITA SENDIRI, SERTA MAKNANYA

NAMUN DI SUATU HARI YANG GELAP DAN BERAWAN

SEORANG LELAKI TERGANTUNG MENANGIS DALAM HUJAN

SEMUA KARENA CINTA, KARENA CINTA …….

KITALAH ALASANNYA, DIA BERIKAN HIDUPNYA

KITALAH ALASANNYA, DIA MENDERITA DAN MATI

BAGI DUNIA YANG HILANG, DIA BERIKAN SEMUA YANG DIA DAPAT BERIKAN

TUK TUNJUKKAN KEPADA KITA ALASAN UNTUK HIDUP

AKHIRNYA KUTEMUKAN ALASAN TUK HIDUP

YAITU BERIKAN SELURUH HATIKU PADANYA

DALAM SEMUA HAL YANG KULAKUKAN, DALAM SETIAP KATA YANG KUUCAPKAN

AKAN KUBERIKAN SELURUH HIDUPKU HANYA BAGINYA

KITALAH ALASANNYA, DIA BERIKAN HIDUPNYA

KITALAH ALASANNYA, DIA MENDERITA DAN MATI

BAGI DUNIA YANG HILANG, DIA BERIKAN SEMUA YANG DIA DAPAT BERIKAN

TUK TUNJUKKAN KEPADA KITA ALASAN UNTUK HIDUP

DIALAH ALASANKU HIDUP………

 

“KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI,

SEHINGGA IA MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, TUHAN KITA

SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA TIDAK BINASA,

MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL” (Yohanes 3 :16)

 

Comments are closed.