dosenittelkom
Comments Off on Februari…Valentine Day…Month of Love…What is Love…?
and posted in My writing

Hmmm….Bulan Februari biasanya identik dengan bulan kasih sayang, bulan cinta….Lope. Dan pas kebetulan juga di bulan itu aku lahir…

Ngomongin soal cinta memang asyik…asyik banget! Buktinya, dari dulu jaman sembako berlimpah ruah sampai sekarang kelaparan melimpah ruah, yang namanya cinta gak pernah usai dibicarakan.

Kalau begitu benar juga apa yang dikatakan George Benson dalam lagu jadul Nothing’s Gonna Change My Love For You….”The world may change my whole life through, but nothing’s gonna change my love for you”…sampai di sini, timbul pertanyaan…”Apa benar?”

Memang benar! Mungkin dunia bisa mengubah seluruh hidup manusia, tapi dunia gak akan pernah sanggup mengubah cinta. Cinta akan selamanya ada, dan gak akan pernah berhenti berada.

Ada sebuah tulisan dalam The Young Mahatma Gandhi, 1939, sebuah tulisan yang filosofis banget… “Bagi saya, cinta adalah kebenaran dan kesucian. Cinta adalah kesopanan dan kesusilaan. Cinta adalah keberanian, kebesaran dari segala kekuatiran. Cinta adalah sumber segala hidup dan cahaya. Cinta mengatasi segala hal di dunia ini. Cinta adalah batin kita, sanubari kita. Cinta ada di sekeliling kita, di atas, di bawah, di samping, dan… di dalam hati kita. Cinta tak akan pernah berhenti berada.”

Dari kalimat terakhir, dapat disimpulkan bahwa Cinta itu abadi. Benarkah? Mungkinkah? Mengapa?

Kalau saja kita mau merenung (bukan melamun), kita akan menemukan bahwa Cinta itu sesungguhnya adalah sesuatu yang simbolik, bukan deskriptis atau science. Nah, karena cinta itu simbolik maka di atas langit masih ada langit, di atasnya masih ada langit lagi…dst…dst. Dengan kata lain, cinta itu kebenarannya berlapis-lapis, dan akan ditangkap sesuai dengan imajinasi, intuisi, dan religiusitas seseorang. Dari cinta yang satu, orang bisa menangkap arti yang berbeda. Makanya cinta itu abadi. Coba kalo cinta itu deskriptis atau science, ya… dibaca sekali langsung abis. Sayangnya kita sekarang cenderung didominasi oleh science yang bersifat deskriptis. Sehingga imajinasi, intuisi dan religiusitas kita menjadi kering. Kalo dulu kalimat “Say it with flower” (Baca : katakan cinta dengan bunga) itu indah sekali. Tapi sekarang, ketika kehilangan sesuatu yang simbolik, kalimat itu jadi kering, beku dan tak bermakna (mungkin lebih bermakna kalo kalimatnya “Say it with money”, hehehe…)

LOVE IS ……

Cinta itu simbolik. Cinta bukanlah benda yang mudah dibentuk dan bukan sesuatu yang instant. Cinta bukanlah sesuatu yang “taken for granted”. Cinta adalah suatu proses kedewasaan yang berkembang. Dan sekali lagi Cinta bukanlah sesuatu untuk didefinisikan, tapi Cinta adalah tindakan dan perbuatan. Amatlah sempit kalo kita beranggapan bahwa unsur-unsur cinta terbentuk pada masalah duniawi (lebih tepatnya materi). Cinta itu realita, nyata, dan mulia. Cinta dalam berbagai bentuk adalah penentu kehidupan. Cinta adalah keagungan unggul manusia, hak paling mulia dari jiwa, amanat yang mengikat kita dengan tugas dan kebenaran, prinsip yang paling menentukan kedamaian hidup dan merupakan kebaikan abadi. Mestinya manusia menyadari sepenuhnya bahwa mereka yang tak tahu apa-apa, tak mencintai apapun juga. Mereka yang tak berbuat sesuatu, juga manusia yang tak mengerti apa-apa. Tapi mereka yang mengerti cinta adalah orang-orang yang benar-benar melihat, serta merasakan. Lebih mendalam pengetahuan kita tentang sesuatu, lebih besar pula kemampuan kita dalam mencintai sesuatu. Yang tak punya rasa cinta, ia tak akan mengenal Tuhannya.

Singkatnya cinta itu ada dan selamanya akan tetap ada. Kalo bukan karena cinta kita gak bakal lahir dan bisa sebesar ini. Kalo bukan karena cinta, Shakespeare, Leonardo Da Vinci, Michaelangelo, Kahlil Gibran, Victor Hugo, Albert Einstein gak akan pernah jadi orang besar. Kalo bukan karena cinta gak akan pernah ada kisah Rome dan Juliet, Rama dan Shinta, Pranacitra dan Roromendut, Sam Pek dan Eng Tay, Popeye dan Olive, Paijo dan Paijem, Ngatiyo dan Ngatiyem, hehehe…A Universe charged with love, bagaimana?? Setuju?? Idealnya sih begitu.

Pelajaran berharga :

1. Berbicara masalah cinta (kasih) bukan berarti kita harus bicara masalah asmara, sebab cinta mempunyai format yang lebih luas ketimbang asmara. Cinta kita kepada TUHAN, cinta kita kepada sesama, cinta kita kepada orang tua, cinta kita kepada kehidupan, cinta kita kepada kebudayaan, cinta kita kepada keindahan dan cinta kita pada hakekat cinta itu sendiri, memberi nilai lebih pada kualitas kita sebagai manusia.

2. Cinta sepanjang masih berorientasi pada perluasan ego duniawi manusia akan menemui kedangkalan makna dan kebekuan arti. Cinta yang mestinya hadir membawa roh peradaban serta tiang penyangga perdamaian boleh jadi akan berubah menjadi awal dari kehancuran manusia. Heaven and Earth, Legend of The Fall, dan Titanic adalah film-film yang memberikan ilustrasi terdekat dengan permasalahan ini.

3. Berbicara masalah cinta, kita sebagai makhluk sosial hendaknya punya skala prioritas, kepada siapa cinta mesti tertambat, dan kepada siapa cinta mesti tersirat.

Tulisan Rabendranath Tagore dalam sajak panjang “Penyeberangan” tentang kasih sederhana TUHAN :

TUHAN….kasihMU sederhana seperti nyanyi, KAU sembunyikan diriMU dalam keagunganMU, Gustiku…

 

—R&RFC_2010, Second Edition—

Comments are closed.